Anak Buta Dalam Gerbong

Malam sobatku semua... apa kabarnya? semoga dalam keadaan terbaik.. amiinn. Kebetulan sudah satu tahun tidak posting hehehe terakhir di tahun 2013 dan sekarang sudah 2014. Padahal sudah mau tidur ehh ada bbm dari teman kuliah yang membroadcast cerita tentang Sebuah kisah yang bagus untuk di sharing ke sobat blogger semua. Kalau ada kesamaan cerita dengan yang lain saya mohon maaf. Semoga cerita ini bisa menginspirasi dan menggugah hati nurani kita agar lebih peka lagi dengan sekeliling kita.

Di sebuah gerbong kereta api yang penuh, seorang pemuda berusia kira-kira 24 tahun melepaskan pandangannya melalui jendela. Ia begitu takjub melihat pemandangan sekitarnya. Degan girang, ia berteriakdan berkata kepada ayahnya: "Ayah, coba liat, pohon-pohon itu.. mereka berjalan menyusul kita". Sang ayah hanya tersenyum sambil menganggukkan kepala dengan wajah yang tidak kurang cerianya. Ia begitu bahagia mendengar celoteh putranya itu.

Di samping pemuda itu ada sepasang suami istri yang mengamati tingkah pemuda yang kekanak-kanakan itu. Mereka berdua merasa sangat risih. Kereta terus berlalu. Tidak lama pemuda itu kembali berteriak : " Ayah, liat itu, itu awan kan..? lihat... mereka ikut berjalan bersama kita juga..." Ayahnya tersenyum lagi menunjukkan kebahagiaan. Kedua orang suami istri di samping pemuda itu tidak mampu menahan diri, akhirnya mereka berkata kepada ayah pemuda itu : "Kenapa anda tidak membawa anak anda ini ke dokter jiwa?". Sejenak, ayah pemuda itu terdiam. Lalu ia menjawab : "Kami baru saja kembali dari rumah sakit, anakku ini menderita kebutaan semenjak lahir, ia baru dioperasi dan hari ini adalah hari pertama dia bisa melihat dunia dengan mata kepalanya". Pasangan suami istri itupun terdiam seribu bahasa.

Setiap orang mempunyai cerita hidup masing-masing, oleh karena itu jangan memvonis seseorang dengan apa yang kita lihat saja. Barangkali saja bila kita mengetahuikondisi sebenarnya kita akan tercengang.

Read More......

Senyum Khas Ibu Pengemis

Wajah ceriah yang tampak dari kejauhan, berjalan lambat tapi pasti, sosok ibu tua sebut saja bu wati (bukan nama sebenarnya). Dengan ciri khasnya bertopi dan memakai tongkat karena salah satu kakinya cacat. Setiap pagi selalu melewati kantor dan selalu menyapa saya dengan senyum khasnya. Pagi nak semoga hari ini diberi rezeki yang berlimpah kata ibu wati kepada saya. Pada mulanya saya mengganggap ibu wati seorang ibu tua pada umumnya.

Tetapi karena setiap pagi berjalan melewati kantor, ras penasaran sayapun timbul, sayapun iseng mengikuti dari kejauhan kemana sebenarnya ibu wati berjalan setiap paginya. Sampai di sebuah pusat perbelanjaan dan didepan ATM dia pun duduk. Saya menyangka ibu wati hanya melepaskan lelah tetapi sayapun terkejut takkala ibu tersebut mengeluarkan kaleng dan diletakkan didepan tempat dia duduk sambil melihat orang yang keluar masuk ATM. Akhirnya sayapun tahu ibu wati seorang pengemis.

Rasa penasaran sayapun belum juga usai (heheh..kayak detektip aja), maklum ibu tersebut setiap pagi selalu menyapa dengan senyum khasnya (senyum hangat) seperti senyum ibu kepada anaknya. Siang hari waktu mau makan siang, kebetulan saya kehabisan uang. Munuju ATM yang berada dekat dengan kantor dengan buru-buru maklum belum kebetulan belum sarapan pagi. Waktu keluar ATM sayapun mendapati ibu wati sedang menunduk lemas dan saya liat kaleng untuk dia mengemis belum terisi uang. Akhirnya saya duduk disamping ibu wati dan menegurnya. Ibu wati sedikit terkejut mendapatkan saya sudah duduk disampingnya.

Hari ini saya tidak melihat senyum yang terpancar dari wajahnya yang ada hanya guratan kesedihan. Sayapun beranikan diri bertanya kepada Ibu Wati. Ada apa bu kelihatan hari ini begitu bersedih. Akhirnya ibu wati menceritakan tentang kehidupannya kenapa dia sampai mengemis, saya bantu berdiri dan ajak ibu wati untuk makan siang sambil melanjutkan ceritanya. Makanan sudah tersaji lagi-lagi saya dikagetkan, beliau tidak mau makan yang ada kucuran air mata sambil melihat ke makanan tersebut.

Binggung tapi belum berani untuk bertanya, ibu watipun mulai berbicara disela tangisnya. "Nak bukannya ibu tidak mau makan pemberian anak, bukan pula ibu sudah kenyang, jujur sampai sekarang ibu juga belum mendapatkan uang. Kalaupun ibu bisa makan, ibu teringat sama bapak yang juga belum makan menunggu uang dari ibu hasil mengemis ibu".

Tak terbendung butiran air mata mulai keluar dari mata saya mendengar cerita ibu wati. Akhirnya saya minta pelayan untuk membungkus semua makanan dan mengajak ibu wati pulang kerumah menemui suaminya. Sampai dirumah ibu wati lagi-lagi saya dikejutkan dengan pemandangan yang memilukan, saya dapati suami ibu wati sedang tidur dengan sehelai kain. Ternyata suami ibu wati tidak bisa melihat alias buta. Tempat tinggal ibu wati dan suami tidak layak dikatakan tempat tinggal karena hanya disekat sama jerami, kardus dan bambu berukuran 3X3. Mereka tidak dikaruniai anak. Ibu wati yang sekarang menopang kehidupan keluarganya semenjak suaminya tidak bisa melihat karena kecelakaan tabrak lari.

Mestinya mereka menikmati masa tuanya tetapi kenyataanya mereka harus berjuang dan bertahan untuk hidup.Jangankan memikirkan untuk membeli baju apalagi tempat tidur yang layak cukup makan untuk hari ini merupakan kenikmatan tersendiri buat ibu wati dan suami.

Sahabat.. mungkin sosok seperti ibu wati ini banyak kita jumpai disekitar kita, kadang kita mengganggap mereka sebelah mata tanpa. Mari kita sisikan kelebihan uang kita buat membantu saudara kita yang hari ini membutukan bantuan. Semoga senyum khas ibu pengemis bermanfaat buat kita semua.

Read More......

Design by Kingdom of Heaven