Nyanyi Seorang Kakak


Seorang ibu muda, Angel namanya, sedang mengandung bayinya yang kedua. Sebagaimana layaknya para ibu, Angel membantu Dewa, anaknya yang pertama yang baru berusia 3 tahun, untuk menerima kehadiran adiknya. Dewa senang sekali. Kerap kali ia menempelkan telinganya di perut ibunya. Dan karena Dewa suka bernyanyi, ia pun sering menyanyi bagi adiknya yang masih di perut ibunya itu.


Tiba saatnya bagi Angel untuk melahirkan. Tapi sungguh di luar dugaan, terjadi komplikasi serius. Baru setelah perjuangan berjam-jam adik Dewa dilahirkan. Seorang bayi putri yang cantik, sayang kondisinya begitu buruk sehingga dokter yang merawat dengan sedih berterus terang kepada Angel, "Bersiaplah jika sesuatu yang tidak kita inginkan terjadi." Angel dan suaminya berusaha menerima keadaan dengan sabar dan hanya bisa pasrah kepada yang Kuasa. Mereka bahkan sudah menyiapkan acara penguburan buat putrinya bila sewaktu-waktu dipanggil Tuhan.

Lain halnya dengan Dewa. Sejak adiknya dirawat di ICU ia merengek terus! "Mami... aku mau nyanyi buat adik kecil!" Ibunya kurang tanggap. "Mami... aku pengen nyanyi!!" Karen terlalu larut dalam kesedihan dan kekuatirannya. "Mami.... aku kepengen nyanyi!!!" Itu berulang kali diminta Dewa bahkan sambil meraung menangis. Karen tetap menganggap rengekan Dewa sebagai rengekan anak kecil. Lagi pula ICU adalah daerah terlarang bagi anak-anak. Baru ketika harapan menipis, sang ibu mau mendengarkan Dewa. "Baik, setidaknya biar Dewa melihat adiknya untuk yang terakhir kalinya. Mumpung adiknya masih hidup!" batinnya.

Ia dicegat oleh suster di depan pintu kamar ICU. "Anak kecil dilarang masuk!" Karen ragu-ragu. "Tapi, suster...." suster tak mau tahu. "Ini peraturan! Anak kecil dilarang dibawa masuk!"

Karen menatap tajam suster itu, lalu berkata, "Suster, sebelum diizinkan bernyanyi buat adiknya, Dewa tidak akan kubawa pergi! Mungkin ini yang terakhir kalinya bagi Dewa melihat adiknya!" Suster terdiam menatap Dewa dan berkata, "Tapi tidak boleh lebih dari lima menit!"

Demikianlah, kemudian Dewa dibungkus dengan pakaian khusus lalu dibawa masuk ke ruang ICU. Ia didekatkan pada adiknya yang sedang tergolek dalam sakratul maut. Dewa menatap lekat adiknya... Lalu dari mulutnya yang kecil mungil keluarlah suara nyanyian yang nyaring "You are my sunshine, my only sunshine, you make me happy when skies are grey...."

Ajaib! Si Adik langsung memberi respon. Seolah ia sadar akan sapaan sayang dari kakaknya. "You never know, dear, How much I love you. Please don't take my sunshine away."

Denyut nadinya menjadi lebih teratur. Karen dengan haru melihat dan menatapnya dengan tajam dan, "Terus.... terus Dewa! Teruskan sayang...," bisik ibunya sambil menangis.

"The other night, dear, as I laid sleeping, I dreamt, I held you in my..." Dan, Sang adikpun meregang, seolah menghela napas panjang. Pernapasannya lalu menjadi teratur..." I'll always love you and make you happy, if you will only stay the same..." Sang adik kelihatan begitu tenang, sangat tenang.

"Lagi sayang..." bujuk ibunya sambil mencucurkan air matanya. Dewa terus bernyanyi dan.... adiknya kelihatan semakin tenang, rileks dan damai... lalu tertidur lelap.

Suster yang tadinya melarang untuk masuk, kini ikut terisak-isak menyaksikan apa yang telah terjadi atas diri adik Dewa dan kejadian yang baru saja ia saksikan sendiri.

Hari berikutnya, satu hari kemudian, si adik bayi sudah diperbolehkan pulang. Para tenaga medis tak habis pikir atas kejadian yang menimpa pasien yang satu ini. Mereka hanya bisa menyebutnya sebagai sebuah terapi ajaib, dan Angel juga suaminya melihatnya sebagai mujizat Kasih Ilahi yang luar biasa, sungguh amat luar biasa!

Bagi sang adik, kehadiran Dewa berarti soal hidup dan mati. Benar bahwa memang Allah yang menolongnya. Dan ingat Allah pun membutuhkan mulut kecil si Dewa untuk mengatakan "How much I love you".

Dan ternyata Allah membutuhkan pula hati polos seorang anak kecil "Dewa" untuk memberi kehidupan. Itulah kehendak Allah, tidak ada yang mustahil bagi-NYA bila IA menghendaki terjadi.

Related Posts by Categories



14 4 comments:

obattradisional penyakitasam urat said...

info'a bagus makasi tas info'a..

herbalife said...

ceritanya bagus, mudah-mudahan bisa ambil hikmah dari cerita ini

Obat Herbal Gondok said...

cerita yang patut kita sebagai muslim

US News said...

I have taken notice that in video cameras, unique receptors help to maintain focus automatically. The particular sensors regarding some surveillance cameras change in contrast, while others make use of a beam with infra-red (IR) light, particularly in low lumination. Higher standards cameras sometimes use a mixture of both devices and might have Face Priority AF where the digital camera can See' some sort of face while keeping focused only on that. Thank you for sharing your opinions on this blog.

Post a Comment

Thanks For Comment

Design by Kingdom of Heaven