MUI Medan larang perayaan Valentine’s Day
MEDAN - Majelis Ulama Indonesia Kota Medan mengimbau umat Islam untuk tidak merayakan Valentine’s Day. Imbauan ini dikeluarkan menyusul banyaknya penyalahgunaan tentang perayaan Valentine’s Day oleh kaum remaja dan pemuda.
"Valentine’s Day bukan tradisi ajaran Islam," kata ketua umum MUI Kota Medan, Muhammad Hatta di Medan, malam ini.
Menurut Hatta, jika dirunut dari sejarahnya, Valentine’s Day jelas tidak ada kaitannya sama sekali dengan Islam dan nilai-nilai budaya Islam melainkan ajaran Katolik. Karena itu, ia menilai wajar bila MUI mengingatkan kepada pemuda-pemudi muslim merayakan Valentine’s Day dilarang, karena Islam tidak membenarkan mencampuradukkan ajaran agama lain dengan Islam.
“Jangan kau campuradukkan yang hak dan batil,” katanya mengutip larangan tegas syariat Islam tersebut.
Hatta mengatakan, Islam memang mengajarkan hidup dengan penuh kasih sayang. Namun konotasi perayaan 14 Februari itu adalah dipersembahkan kepada dewa-dewa, sehingga perayaan Valentine’s Day bagi umat Islam, jelas masuk kategori menyimpang.
"Valentine’s Day bukan tradisi ajaran Islam," kata ketua umum MUI Kota Medan, Muhammad Hatta di Medan, malam ini.
Menurut Hatta, jika dirunut dari sejarahnya, Valentine’s Day jelas tidak ada kaitannya sama sekali dengan Islam dan nilai-nilai budaya Islam melainkan ajaran Katolik. Karena itu, ia menilai wajar bila MUI mengingatkan kepada pemuda-pemudi muslim merayakan Valentine’s Day dilarang, karena Islam tidak membenarkan mencampuradukkan ajaran agama lain dengan Islam.
“Jangan kau campuradukkan yang hak dan batil,” katanya mengutip larangan tegas syariat Islam tersebut.
Hatta mengatakan, Islam memang mengajarkan hidup dengan penuh kasih sayang. Namun konotasi perayaan 14 Februari itu adalah dipersembahkan kepada dewa-dewa, sehingga perayaan Valentine’s Day bagi umat Islam, jelas masuk kategori menyimpang.
Menurut Hatta, merayakan Valentine’s Day melanggar hukum Islam sehingga memperingatinya hukumnya haram. Guru besar Institut Agama Islam Negeri Sumatera Utara ini menegaskan bahwa segala sesuatu yang menjadikan pijakan perbuatan di luar aqidah Islam, maka perbuatan tersebut menyimpang dari nilai-nilai Islam. Terlebih bila perayaan itu digelar dengan perbuatan di luar batas kewajaran. "Merayakan Valentine’s Day itu kan juga sama dengan berhura-hura," katanya.
Imbauan ini menyambung sikap MUI Sumatera Utara yang hampir setiap tahun mengimbau umat Islam agar tidak merayakan Valentine’s Day. Bahkan MUI Sumatera Utara juga telah mengharamkan perayaan Valentine karena hanya buatan manusia dan berasal dari budaya Barat. Selain itu, dasar mengharamkan perayaan Valentine’s Day karena Islam melarang mencampuradukkan ajaran lain ke dalam ajaran Islam.
Cendekiawan muslim, Syahrin Harahap, mengatakan, filosofi Valentine’s Day tidak bertentangan dengan Islam sebab Islam mengajak berkasih sayang sebab hal itu sangat mengesankan. Bahkan Allah SWT menciptakan alam dan manusia dengan cinta dan kasih. “Kasih sayang harus ditegakkan dalam Islam,” katanya.
Namun rektor Universitas Al Washliyah Medan ini sependapat dengan sikap MUI Medan dan Sumut yang menentang perayaan Valentine’s Day di luar konteks norma dan ajaran Islam yang dilaksanakan hura-hura dan pergaulan bebas antara pemuda dan pemudi, karena hal itu tidak diinginkan dalam Islam. “Secara substansi Hari Kasih Sayang diajarkan dalam Islam tetapi Islam mengharamkan jika pelaksanaannya di luar konteks ajaran Islam,” katanya.
Berdasarkan Wikipedia, ada beberapa versi tentang hari Valentine yang kini banyak dirayakan kaum muda dan remaja di Indonesia dan dunia. Salah satunya sebagaimana mengutip Ensiklopedi Katolik (Catholic Encyclopaedia 1908), hari Valentine berasal dari peringatan Santo Valentinus. Valentinus adalah tokoh terkemuka di Roma, Italia, pada 143 Masehi, yang mengemukakan gagasan hidup dengan cinta dan kasih sayang adalah dambaan bagi semua orang. Ide ini kemudian diminati kebanyakan kaula muda ketika itu.
Sumber : http://www.waspada.co.id




